Ingin Bangun Tiny House Di Indonesia? Perhatikan 7 Hal Ini!

by Jeffrey Ansen

Bertambahnya populasi manusia kerap kali menciptakan berbagai permasalahan, salah satunya kepadatan penduduk. Lahan tempat tinggal menjadi semakin sempit. Harga tanah pun melambung tinggi. Sebanding dengan itu, harga properti juga tambah mahal. Dalam situasi ini, masyarakat yang berpenghasilan rendah mengalami kesulitan untuk membeli atau membangun hunian. Meskipun belum terlalu familier di Indonesia, kini ada konsep “Tiny House”  yang dianggap mampu menjadi solusi di tengah mahalnya harga sebuah properti. Rumah tinggal mungil ini semakin digemari karena murah dan efektif. Bagaimana tidak, cara mengurusnya pun lebih mudah daripada rumah pada umumnya. Nah, jika Anda tertarik untuk memiliki “Tiny House”, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Baca juga: 10 Inspirasi Model Tiny House Indonesia untuk Kantong Aman

1. Kurangi Barang yang Dimiliki


Salah satu hal yang perlu dilakukan sebelum pindah ke rumah baru ini adalah menyortir barang-barang yang dimiliki. Pasalnya, ruangan berukuran sekitar 18m2 tidak akan dapat menyimpan banyak barang. Anda harus bersedia merelakan sejumlah benda yang pada dasarnya tidak dibutuhkan lagi. Dengan menerapkan prinsip minimalis, proses beradaptasi di rumah mungil tidak akan terlalu sulit.

Meskipun demikian, bukan berarti “Tiny House” di Indonesia sama sekali akan terlihat kosong. Sebagian besar desain rumah mungil justru sangat lengkap sekaligus artistik. Berbagai kebutuhan utama seperti dapur yang elegan, kamar mandi dengan fitur lengkap, dan tempat tidur nyaman bisa dijumpai di sini. Rahasianya terletak pada pengaturan ruangan yang efektif dan praktis.

2. Pilih Lokasi yang Tepat


Selanjutnya, Anda perlu memilih lokasi yang tepat sebagai lahan untuk membangun rumah. Salah satu pertimbangan yang biasanya digunakan adalah kedekatan dengan pusat aktivitas harian, misalnya tempat kerja, sekolah, atau pusat hiburan. Karena tidak membutuhkan lahan luas, Anda tentu memiliki lebih banyak alternatif yang menarik dengan biaya yang lebih terjangkau.

Meskipun demikian, saat membeli tanah untuk membangun hunian, sebaiknya tetap sediakan ruang untuk beraktivitas di luar selain di dalam rumah. Akan sangat menarik jika Anda justru bisa memilih lokasi yang dekat dengan alam. Aktivitas harian pun tidak berputar di dalam rumah, tetapi lebih fleksibel. Apalagi karena masyarakat di negara ini senang berkumpul, baik keluarga maupun teman.

3. Tetapkan Prioritas Ruang yang akan Dibangun


Rumah berukuran 18 m2 tentu memiliki sejumlah keterbatasan. Tantangan bagi para arsitek adalah memaksimalkan fungsi rumah sehingga tetap nyaman ditinggali meskipun tidak terlalu luas. Nah, dalam hal ini Anda harus dapat menentukan ruang apa saja yang perlu ada dalam “Tiny House” di Indonesia.

Pada umumnya, ada beberapa bagian penting yang sebaiknya tersedia, yaitu tempat tidur, dapur, kamar mandi, dan tempat untuk bersantai. Supaya lapang, sekat biasanya tidak terlalu banyak digunakan. Nah, Anda harus memprioritaskan ruangan yang benar-benar diinginkan dan bermanfaat sehingga hunian ini dapat setara dengan rumah biasa dari segi fungsinya.

4. Tidak Perlu Terlalu Ekstrem dari Segi Luasnya


Pada awalnya, konsep “Tiny House” diperkenalkan oleh Jay Shafer yang membuktikan diri berhasil hidup di rumah seluas 12 m2. Namun, Anda tidak perlu terlalu ekstrem karena di negara ini pada khususnya masih tersedia kesempatan untuk memiliki lahan tempat tinggal dengan harga terjangkau. Dengan catatan, Anda tidak benar-benar memilih pusat kota yang padat.

Hal yang paling utama dari konsep “Tiny House” adalah mengurangi biaya pembangunan rumah sekaligus supaya tetap nyaman di dalamnya. Jika Anda memiliki anggota keluarga yang lebih dari 2 orang, ide ini tentu harus dipikirkan kembali. Atau, Anda setidaknya melakukan beberapa penyesuaian sehingga tinggal di rumah mungil ini tidak justru menyiksa.

5. Memanfaatkan Loteng untuk Berbagai Keperluan


Pada rumah-rumah konvensional, bagian atas rumah jarang dimanfaatkan karena terkesan merepotkan dan tidak praktis. Namun, karena lahan untuk membangun rumah sangat terbatas, loteng merupakan bagian yang sangat potensial untuk dimanfaatkan.

Biasanya, loteng merupakan area yang paling ideal menjadi kamar tidur dalam konsep “Tiny House”. Selain karena di bagian utama rumah tidak memungkinkan, loteng juga menawarkan privasi. Jadi, Anda ibaratnya memiliki kamar sendiri yang tidak semua orang bisa melihatnya. Bukan hanya satu, di loteng dapat dibangun 2 kamar tidur dengan menempatkannya di sisi yang berbeda-beda.

Bukan hanya itu, bagian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan. Ada pula yang mendesainnya sebagai ruang untuk bersantai. Tentu saja, bagian interiornya dapat ditata sedemikian rupa sehingga tetap nyaman.

6. Pertimbangkan Faktor Keamanan


Jika Anda membangun Tiny House di Indonesia, bukan hanya kenyamanan saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga keamanan. Meskipun mengalami pengurangan luas, faktor keamanan tetap harus diperhatikan. Apalagi karena Anda hanya dapat memaksimalkan perlindungan pada satu pintu saja. Jadi, pastikan pintu kokoh dan dilengkapi dengan kunci pengaman yang baik.

Keamanan juga terkait berbagai risiko yang mungkin terjadi di rumah, seperti kebakaran karena masalah kelistrikan atau kebakaran karena masalah di bagian dapur. Dengan arsitektur yang tepat, hal-hal ini dapat dihindari.

7. Perhatikan Sarana Pendukung


Sebuah rumah harus didukung oleh sarana, seperti sumber aliran listrik yang memadai, tempat pembuangan limbah, sumber air bersih, dan sebagainya. Pada saat membangun Tiny House di Indonesia, pastikan sarana-sarana ini tersedia dan tidak merepotkan Anda di kemudian hari.

You may also like

Leave a Comment